Sabtu, 12 Juni 2021

Kau dan Hujan, sama

Kau dan hujan, sama. Sama-sama kunantikan kehadirannya. Kau seperti hujan, yang datang mengingatkan kenangan, setelah itu pergi menyisakan lembab di tanah juga di pipi.

Disini, dikota ini, bukan kau yang datang, tapi hujan. Kau tahu? Apa yang terjadi dimalam ini? Hujan dan kenangan beradu, dan aku kembali merindukanmu. Apa kau merasakannya? Aku rasa tidak.

Hujan tak hanya menyisakan bangunan yang basah, tanaman yang basah, juga jalanan yang basah, namun juga menyisakan rindu yang harus mengalah.

Hujan dan kau, sama. Sama dinginnya.
Kau selalu berdiri diujung jalan sana, menjauh tanpa lambaian tangan. Tak pernah kau fikir bahwa itu menyesakkan ku?

Aku tak membenci hujan yang membasahi tanah. Yang kubenci, mengapa hujan yang ini selalu membasahi pipi? Hujan yang selalu datang ketika kudengar ketukan langkah kakimu yang menjauh pergi.

Jika aku harus jujur, beberapa kali aku memaksa melupakanmu, nyatanya semua tentangmu tak pernah hilang oleh derasnya hujan.

Apakah sejatinya jatuh cinta selalu dihubungkan dengan penantian lalu mengikhlaskan? Mengikhlaskan untuk terabaikan maksudku.

Kamu selalu melangkah pergi diatas genangan dan menyisakan kenangan.
Selalu ada peristiwa setiap kali hujan turun, entah itu kepingan hati yang gagal direkatkan atau pecahan luka yang gagal disembuhkan.

Genangan dan kenangan, hadir didua waktu yang berbeda. Genangan ada ketika hujan telah usai. Kenangan, aku rasa kenangan tak pernah memandang waktu, ia hadir setiap kali kewarasan dalam diri ini menghilang sedikit demi sedikit, setelah itu merasuki fikiran hingga bernafaspun sulit.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Komentar Disini