Sabtu, 12 Juni 2021

Kamu hanya pendatang rasa sedih

Mohon untuk dipahami, aku menulis ini dalam keadaan baik-baik saja. Tak ada dendam, pun sakit hati. Aku hanya ingin menuliskan hal-hal yang sempat tertunda untuk kusampaikan padamu. Memang, beberapa waktu belakangan ini aku kesulitan untuk menulis. Entah tersebab apa. Isi kepalaku selalu saja kesulitan untuk memulai kata. Hingga akhirnya aku coba untuk menulis sekaligus menyampaikannya padamu. Kau tahu, kan? Dalam kisah kita, aku yang bersikeras memperjuangkan kita. Entah memperjuangkan apa, padahal kita bukan apa-apa. Tapi dalam tiap situasi, kau selalu membuangku seperti tak berarti. Kau masih ingat, kan? Aku selalu ditempatkan sebagai pemeran yang mengharap belas kasihan, dan kau dengan angkuhnya mengabaikan. Padahal inginku waktu itu sederhana saja. Hanya ingin mendampingimu dari titik terendah. Menikmati bersama, setiap proses kehidupan yang kau rencanakan. Menjadi bagian dari rangkaian harapan. Namun, dan lagi, yang kudaptkan hanya penolakan tanpa hati. Menjadi sosok tak berarti. Tanpa alasan dan penjelasan, perlakuanmu selalu saja menyesakkan dada.
Sedih saja rasanya waktu itu. Saat itu, dadaku dipenuhi sesak pilu, ketika segala upaya untuk mendampingimu hanya berujung dengan tumpahan kecewa. Rasanya seperti tidak ada apa-apa dalam diriku yang bisa untuk kau terima.
Aku terus berjalan pelan-pelan. Melalui beberapa fase kehidupan. Menyibukkan diri dengan pekerjaan. Hingga waktu berlalu. Pengalaman mengajarkan aku satu hal. Aku hanya perlu sedikit bergerak, untuk kemudian ditemukan oleh ia yang mampu menerima kelemahanku. Ia yang tak pernah berhenti menyemangati, untuk aku kembali percaya diri menjalani hari-hari. Terimakasih, telah menjadi bagian dari tujuh tahun kisah sedih yang pernah kamu tolak, tanpa pernah memikirkan rasanya retak.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Komentar Disini