Seperti biasa, segala hal yang kupertanyakan tak pernah kau jelaskan secara rinci. Kau tidak mengerti bagaimana menghadapi perempuan. Kau tidak mengerti bahwa perempuan perlu beberapa kali penjelasan hanya untuk memastikan suatu kejelasan dan kepastian. Kau selalu saja begini, menggantungkan beberapa pertanyaan. Padahal kau tahu betul, Tuan, itu adalah hal menjemukan.
Seperti biasa, kau tak pernah memberi penjelasan. Tentang bagiamana aku harus mengimbangi sikapmu. Tentang bagaimana membangun komitmen bersamamu. Kau selalu berhasil membuktikan rinduku yang membabi buta. Terkesan aku yang tergila-gila. Terkesan aku yang mengiba. Sedangkan kau selalu nampak tergesa-gesa. Apa yang kau takutkan dariku? Takut aku tidak secantik wanita impianmu? Takut aku tidak sesuai dengan kriteria pasangan hidupmu? Padahal selama ini, akulah yang paling berlapang dada menerima segalamu. Aku yang selalu menginginkan untuk menemani titik terendah dalam hidupmu.
Entah. Kau yang sulit kuterka. Dan aku yang sulit kau terima. Terimakasih, telah membuatku untuk tidak lagi mempercayai cinta. Dan mungkin dikemudian hari, bisa saja aku sama sekali tidak mempercayai lelaki dan segala perlakuan tololnya. Cinta dalam diriku telah hilang, bersamaan ketika kau memutuskan bahwa aku bukanlah tempat pulang. Cinta menjadi hal yang kubenci. Tersebab cinta, aku kehilangan sisi romantis dalam diriku. Tersebab cinta, puisi bagiku hanya untaian kata yang tak layak semua orang membacanya.
Terimakasih, Tuan.



0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Komentar Disini